Langsung ke konten utama

Postingan

Menyesal, 2023 The End

  Sumber Ilustrasi: CXO Media Menyesal, 2023 The End Safira Maynar Apakah ada yang tidak pernah merasa menyesal selama hidup? Tentu tidak, setiap orang pernah merasakan yang namanya menyesal. Perasaan ini kerap di pandang negatif, tetapi tak jarang ada orang yang mampu mengambil sisi positif dari perasaan ini. Di masa ini dengan maraknya isu mental health penyesalan lebih sering menjadi masalah utama bagi seseorang dan mempengaruhi emosi secara kompleks. Penyesalan dalam Psikologi Menurut Neal J Roese (2005), penyesalan adalah emosi negatif yang muncul karena ada proses penarikan kesimpulan atas informasi-informasi yang kontrafaktual. Pada umumnya penyesalan muncul saat apa yang terjadi tidak sama dengan apa yang diharapkan. Hanya saja jika berhenti di definisi ini maka yang terjadi hanya kekecewaan, bukan penyesalan. Penyesalan secara spesifik berasal dari perbandingan antara hasil faktual (kenyataan) dan hasil yang mungkin terjadi jika seseorang memilih tindakan lain. Saat...

Sang Perindu

Laksana angin yang berembus  Merasuk ke dalam jiwa jiwa yang kosong Menjadi desau yang melegakan.. Begitulah cahaya Islam Merasuk kepada jiwa jiwa para perindu RabNya Rindu akan perjumpaan dengan RabNya Duhai jiwa yang lemah, Tak rindu ka engkau pada RabMu? Tak inginkan perjumpaan denganNya? Jika ya, mengapa jiwamu berada pada kekosongan? Kelam tak berujung, tersesat dalam lingkaran tak berujung, dimanakah muaranya? Kepada RabMu kah? Atau kepada dunia yang begitu fana... Sungguh sakit! Ketika rindu itu terpatri, tapi tak ada usaha, tak ada doa yang menyambut.. Hanya kelam yang merasuk, terbuai oleh waktu dan kenyamanan, melemah - lemahkan jiwa, berputus asa.. Betapa penuh nestapa dirimu, merindu tapi hanya omong kosong! Sakitlah sesakit-sakitnya, menyesallah kelak ketika nyawa di kerongkong... Menyesal tiada ujung, merintih dengan kepiluan.. Oh Sungguh, kembalilah wahai perindu, kembali pada RabMu, bertakwalah, berusahalah menjadi hamba yang taat, berjuanglah untuk perjumpaan yang ...

Konsisten

Beberapa orang paham makna teori konsisten tidak hanya materi tapi juga secara penerapan. Kalau materi sudah paham apa itu konsisten, bagaimana, berapa, dan untuk mencapainya.  Tapi, pada penerapan lah ilmu konsisten akan senantiasa diuji. Misalnya, konsisten dzikir pagi dan petang setiap selesai agenda shalat subuh, tapi hanya 2/10 yang bisa konsisten dijadwal yang telah disusun nya. Apalagi dimasa online yang begitu dinamis sangat sulit. Konsisten itu perlu disertai tekad, di atas sepertinya tidak mudah. Benar, konsisten butuh perjuangan terlebih melawan hawa nafsu (bosan, kurang fokus, maunya santai, dll). Jadi, sulit bukan berarti tidak bisa. Mulai lah dengan langkah kecil, sedikit-sedikit baru tambah targetnya. Insyaa Allah bisa, dan punya potensi. Bukti nya adalah Shalat, konsisten 5 kali dalam sehari meski kadang disertai rasa berat. Tapi sampai hari ini bisa bertahan, artinya kamu bisa. Yuk, belajar konsisten! Jangan fokus pada kekuarangan tapi ciptakan peluangnya.

Tidak jadi berlian tanpa tempaan

Tidak jadi berlian tanpa tempaan. Yang menempa harus kerja keras, lelah, keringat, panas, dan semua kakuatan yang dibutuhkan untuk manjadikan sebuah batu menjadi berlian. Dalam menempa harus tega, karena ada bagian-bagian yang harus terbuang. Tega untuk memukul tapi disertai kehati-hatian. Apatah lagi manusia? Makhluk yang diberi akal, penempa dan yang ditempa. Maka rujukannya adalah bagaimana Rasulullah menempa para sahabat, lihatlah sebagian kisah dimana keluarga Yasir diperlihatkan untuk kita dan bagaimana terhadap bilal ketika menghadapi kaum Quraisy, lihat bagaimana sikap Rasulullah.

Jejak-Jejak Semangat Berdakwah

Akhir-akhir ini terngiang nasehat dari ustad murabbi kami pas SMA. Kala itu senin sore sehabis sekolah, di sebuah mushalla yang diisi siswa (i) yang mau tarbiyah (masih gabung dulu).Beliau berkata "Adek-adek kalian ini adalah penerus generasi yang akan menghadapi akhir zaman baik itu kalian sendiri atau generasi kalian (anak), makanya hari ini kalian harus belajar dan berazzam. Yang akan kalian hadapi tidak akan mudah, kalian harus mendidik generasi menghadapi kerasnya akhir zaman ibarat memegang bara api" Dari Anas bin Malik  radhiyallahu ‘anhu , Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ “ Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api .” (HR. Tirmidzi no. 2260. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini  hasan ). Dan pada waktu itu terbesit dalam pikiran perkalian hitungan usia :(...

Perenungan 2

Beberapa waktu ini, Allah kasih beberapa hal untuk saya renungi sekaligus jadi tamparan. Melalui interaksi sosial media yanh memperkenalkan dengan orang-orang baru yang bahkan tidak terduga sebelumnya baik yang lebih muda maupun jauh lebih diatas saya. Bahwasanya terkadang kita menganggap salah/tidak bijak apa yanh dilakukan orang lain hingga timbul prasangka prasangka yang buruk yang memicu sifat tak baik muncul tanpa sadar, contohnya sombong.  Karena kita merasa orang tidak adil terhadap kita atau orang lain, hingga muncul spekulasi negatif dalam diri kita tanpa sadar kita juga memicu diri kita bahwasany kita mengaggap diri kita lebih vaik dari orang lain itu karna mampu berpikir bahwa itu tindakan tidak adil dan lain sebagaianya, sangat halus celahnya yah meski memang itu benar.  Makanya memilih diam dan merenung menjadi salah satu pilihan, apatah lagi jika lisan atau diri tak sampai padanya untk memberi nasehat alih alih memberi komentar, meski terkadang member...

Perenungan

[Perenungan] Sebuah dialog antara si kakak (K)  dan si Adik (A)  K: saya umur 25 pa'deh, belum siapka kurasa A: Berapami umurmu sekarang?  K: 21 tahun (dengan mimik santai)  A: Sok mudamu deh, na 2021 mi ini, kalau umur panjang beberapa bulan 23 tahun K: (berpikir sejenak), iya dih. Ternyata tidak lamami itu 25 tahun (kalau panjang umur Insyaa Allah)  A: makanya pelajarimi, tidak ada itu jaminan waktu. Ka tidak sedikit ini mau di pelajari K: Iya di', tapi bagaimanami kalau kematian duluan?  A: itu beda lagi. Intinya pelajarimi lagi.  K: sebenarnya ku pelajarimi, tapi tidak kelihatan 'tim diam diam belajar'(ini ungkapan dalam hati)  Kesimpulan: 1. Nasehat menasehati tidak memandang usia, terkadang yang tua ini perlu diingatkan. Pun sebaliknya yang muda jangan merasa itu sebuah tekanan (saya tahu jiwa mudah punya keinginan untuk mengambil jalan tanpa intervensi yang lain), tapi coba di renungi Insyaa Allah maksudnya baik 2. Antara ilmu d...